Jumat, 22 November 2019

Pertamina Lepas Patra Jasa

"Pertamina Lepas Patra Jasa TEMPO Interaktif, Jakarta -Perusahaan minyak dan gas bumi PT Pertamina (Persero) akan melepas kepemilikan saham mayoritasnya di anak usaha PT Patra Service akhir bulan ini. Direktur PT Perusahaan Pengelola Asset Andi Saddawero menjelaskan ini bagian dari usaha perusahaan melepas usaha non-inti. Andi menjelaskan seputar 66,7 persen saham Pertamina dari keseluruhnya kepemilikan 99,98 persen di Patra Service akan dilego. Berapakah persisnya harga saham yang akan ditawarkan perusahaan pelat merah itu, Andi malas memberikan komentar. Ia hanya meramalkan angkanya bisa sampai triliunan rupiah karena properti Patra Service biasanya ada di ruangan strategis. Telah didapati, Patra Service salah satunya anak usaha Pertamina yang bekerja di bidang pariwisata dan properti. Beberapa properti yang dimiliki Patra Service diantaranya tujuh hotel, Gedung Patra Service Kuningan, dan satu residensial elok di Patra Kuningan. Pada 21 April lalu, Pertamina meminta PPA mengatur aset-aset non-inti perusahaan. Bukan sekedar membantu divestasi Patra Service, PPA mengatur asset lainnya, seperti Lapangan Terbang Pondok Cabe, PT Pelita Air Service, PT Patra Dok Dumai, PT Usayana, dan PT Seamles Pipe Indonesia. Awalannya PPA telah melego asset properti Pertamina di Kemang. Vice President Corporate Communication PT Pertamina (Persero) Muchammad Harun yakinkan pelepasan kepemilikan saham di Patra Service jadi usaha perusahaan untuk lebih memprioritaskan perhatian ke usaha penting dibagian daya. Harun belum ingin menerangkan harga saham Patra Service yang akan dilepaskan Pertamina karena harus lihat kondisi pasar. Yang pasti, Dengan masih kinclongnya usaha properti dan perhotelan saat ini, Patra Service bisa lebih lincah dan berkembang lebih baik, katanya waktu dihubungi kemarin. Ia melihat dilepasnya Patra Service tidak berpengaruh berkaitan pada Pertamina. Permasalahannya Patra Service sejak awal dibikin dan dinaikkan hanya untuk memberi dukungan pekerjaan usaha inti Pertamina. Bukan sekedar mengatur penjualan Patra Service, PPA tengah mengupayakan restrukturisasi utang PT Tuban Petrochemical, induk usaha PT Trans Pacific Petrochemical Indotama (TPPI), beberapa Rp 3,2 triliun. Tentang TPPI berutang pada Pertamina sebesar US$ 300,7 juta. Akhir tahun tempo hari Pertamina berkeinginan menyeret Trans-Pacific ke arbitrase karena gagal bayar berulang-kali. Dari beberapa pilihan, kata Andi, PPA merekomendasikan percepatan pembayaran sisa utang Tuban Petrochemical, yang jatuh temponya pada 2014. Sampai akhir bulan tempo hari, baru Rp 66,6 miliar utang berjalan Tuban Petrochemical itu terbayar. Turut campurnya PPA dalam penyelesaian utang Pertamina dengan Trans-Pacific karena pemerintah tidak mau pembayaran utang Tuban Petrochemical mempunyai permasalahan. Dari tiga anak usaha Tuban Petrochemical, Trans-Pacific Petrochemical Indotama ialah mesin penting pengembalian utang. RIEKA RAHADIANA | GUSTIDHA BUDIARTIE "" "

Tidak ada komentar:

Posting Komentar